“WHEN I WAS YOUNGER I SAW MY DADDY CRY AND CURSE AT THE WIND; MY MOMMA SWORE THAT SHE WOULD NEVER LET HERSELF FORGET.
THAT DAY I PROMISED I’D NEVER SING OF LOVE IF IT DOES NOT EXIST”
Pukul tujuh di selatan benua Amerika.
Di dekatku ada burung bernyanyi.
Mungkin bernyanyi lagu rindu.
Aku lelah merengkuh tubuh ringkih
sendiri. Bahkan negroni tak mampu
menipu kesepian hati.
Kamu mungkin tidak berada di sini —
aku duduk menemani diriku sendiri.
Di puisi ini hanya akan kamu temukan
hari yang patah terjebak pesta berbeda.
Aku mengundang kau juga.
Pagi yang pecah.
Mata yang tiada pernah sanggup
terkatup… tanpa dilahap
kenangan.