Suatu hari setelah refleksi diri, saya bertanya dalam hati kapan buku kedua saya tidak sekedar niatan, melainkan jadi kenyataan. Sayangnya, belum terlihat hilalnya… Setidaknya, di akhir proses refleksi (buka buku, tulis, coret, buka buku lagi), saya ditemukan dengan tulisan dari arsip dua puluh dua tahun silam seperti berikut.
Pandanganmu ada di titik hitam. Yang nampak tidak lagi terlihat. Kesendirian menakutimu, lalu kesepian menegur sapa. Percaya saja, hari tidak selamanya segelap ini. Lagipula, di gelap ini tetap ada keriangan; karena gembira datang tidak hanya dengan melihat, pun terlihat. Sebaliknya, kadang penglihatan mencuri kebahagiaan. Sekarang saatnya kamu tidur, tutup matamu, temui aku. Kutunggu di bahagia ini; bahagia yang sudah kekal, bersama Dia.